Identifikasi Teks Cerita Sejarah Faktual Imajinasi

Identifikasi Teks Cerita Sejarah

Sejarah dikategorikan sebagai novel ulang atau rekon.

Jenis novel ulang atau novel sejarah :

1. Rekon pribadi adalah novel yang memuat kejadian dan penulisnya terlibat

2. Rekon faktual adalah novel yg memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah , laporan polisi dll

3. Rekon imajinatif novel yang memuat kisah faktual yang dikhayalkan dan diceritakan lebih rinci

Contoh novel sejarah

1. Kemelut Majapahit

2.Gajah MadaBergelut Tahta

dan Angkara

Sesi pembelajarannya adalah dengan menyediakan bacaan sperti contoh novel sejarah dengan menentukan unsur unsur instrinksik dan unsur ekstrinksik.

Untuk identifikasi struktur teks cerita sejarah , orientasi ,pengungkapan peristiwa,rising action( menuju konflik) , komplikasi,, evaluasi atau redolusi, koda.

1.Orientasi

2. Pengungkapan peristiwa

3. Menuju Konflik/rising action

4.Puncak Konflik / turning point komplikasi

5.Penyelesaian atau evaluasi resolusi

6. Koda

Orientasi adalah awal atau pengenalan dari sebuah cerita atau peristiwa sejarah. Biasanya berisi perkenalan tentang tokoh-tokoh dalam cerita yang akan diceritakan.

Contoh orientasi: Pada zaman dahulu hiduplah seekor rusa yang sedang berjalan di padang rumput nan hijau dengan bahagia, karena ia baru saja mendapatkan tempat baru dengan sumber makanan yang melimpah.

Komplikasi adalah saat terjadinya sebuah masalah yang dihadapi oleh sang tokoh utama dalam cerita.

Contoh komplikasi: Sampai sang rusa sedang bahagian, ternyata banyak rintangan yang akan dilalui rusa yang sedang berbahagia ini. Di padang rumput tersebut juga di huni oleh binatang lain termasuk binatang buas.

Resolusi adalah cerita dimana sang tokoh utama mendapatkan ide unutk memecahkan masalah yang berada dalam komplikasi.

Contoh resolusi: Sang rusa tadi pun mendapatkan ide untuk menyelesaikan masalahnya dengan mencari teman dari kelompok rusa lain. Dan, ia pun bahagia karena telah mendapatkan teman dari bangsanya sendiri.

Koda adalah bagian akhir dari cerita yang mengandung makna dari cerita atau amanat yang dapat diambil dari cerita tersebut.

Contoh koda: Kita harus bahagia memiliki teman, karena selain merasa aman. Memiliki teman juga membuat kita tidak merasa kesepian meskipun kita ditempat yang indah dan memiliki segalanya, tanpa teman kita akan sendiri dan tidak merasa bahagia.

Ada cerita sejarah tentu ada teks cerita sejarah. Nah, disini saya juga akan berbagi tentang apa itu teks cerita sejarah dan ciri kebahasaan teks cerita sejarah.

Teks cerita sejarah adalah teks yang menceritakan suatu peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau dan berdasarkan fakta. Peristiwa sejarah tersebut disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktu terjadinya, dan peristiwa tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat. Sebuah teks dapat disebut teks cerita sejarah apabila strukturnya seperti struktur teks cerita sejarah. Selain itu di dalam teks cerita sejarah terdapat beberapa ciri kebahasaan.

Ciri kebahasaan teks cerita sejarah ditandai dengan adanya pronomina atau kata ganti, kata-kata yang menunjukan kejadian atau peristiwa, adanya kata kerja (verba) material, dan konjungsi (kata penghubung) temporal. Dalam teks sejarah bisa didapatkan beberapa kaidah kebahasaan di antaranya penggunaan konjungsi atau kata sambung yang menyatakan urutan peristiwa dan fungsi keterangan yang menyatakan waktu, tempat dan cara. Teks sejarah yang memang mengemukakan kejadian yang telah terjadi pada zaman dulu tentu waktu peristiwa itu harus jelas, begitu pun dengan tempat kejadiannya harus jelas pula.

Baca Novel Sejarah Mangir

Kartya Pramudya Ananta Toer

Latar belakang kisah Mangir karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah keruntuhan Majapahit pada tahun 1527, akibat dari keruntuhan Majapahit, kekuasaan tak berpusat tersebar di seluruh daerah Jawa yang menyebabkan keadaan kacau balau. Perang terus terjadi untuk merebut kekuasaan tunggal, perang tersebut tentu saja menjadikan Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.

Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.

Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya atau biasa disebut tua Perdikan yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya seorang pemuda gagah dan berani beserta saudara angkatnya yang bernama Baru Klinting. Tak hanya berdua, Perdikan Mangir memperoleh bantuan dari beberapa orang demang yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan pula. Demang Patalan, Demang Jodog, Demang Pandak, dan Demang Pajangan adalah orang-orang yang setia selalu membantu Wanabaya.

Perdikan Mangir dan Wanabaya

Suatu hari Perdikan Mangir di bawah komando Wanabaya berhasil memukul mundur pasukan Mataram yang hendak menyerang dengan siasat perang Ronggeng Manggilingan. Setelah perang kecil tersebut usai, Wanabaya bersukaria dengan menari bersama wanita ronggeng keliling yang bernama Adisaroh. Adisaroh adalah seorang wanita yang sangat cantik sehingga membuat Wanabaya tak mampu melepaskan pandangannya dari Adisaroh yang lama kelamaan membuatnya jatuh hati kepadanya.

Lain halnya dengan Wanabaya, para demang dan Baru Klinting justru sibuk berdebat sengit akan tingkah laku Wanabaya yang menurut Demang Patalan dan Demang Pandak tidak sepatututnya dilakukan oleh seorang tua Perdikan. Sebaliknya Demang Jodog dan Demang Pajangan justru membenarkan apa yang dilakukan oleh Wanabaya, sementara itu Baru Klinting hanya bisa menjadi penengah antara kedua kubu yang berseteru.

Baru Klinting yang pandai bersilat lidah akhirnya memutuskan untuk menghadapkan Wanabaya beserta Adisaroh ke hadapan para demang. Mereka menuntut Wanabaya agar dapat bersikap bijak layaknya sebagai seorang tua Perdikan, bukannya malah mabuk sambil menari-nari bersama Adisaroh seusai perang. Bukan kepalang kekesalan Wanabaya, akhirnya di hadapan seluruh demang termasuk ayah Adisaroh Tumenggung Mandaraka, ia menyatakan rasa cintanya kepada Adisaroh dan hendak mempersuntingnya. Tak ada pilihan bagi Adisaroh untuk menolak begitu juga dengan para demang yang tak dapat membendung hasrat Wanabaya muda.

Tak henti sampai di situ, Baru Klinting tetap memberi wejangan dan nasihat kepada Wanabaya akan keputusan yang telah ia ambil. Dengan atau tanpa Adisaroh Wanabaya tetap harus menjadi orang yang paling setia dan cinta pada Perdikan Mangir serta tidak akan melemah pendirian. Tetap gagah berani dan terus maju melawan Mataram sebagai seorang setiawan.

Akhirnya Pambayun mengatakan yang sesungguhnya kepada Wanabaya bahwa sebenarnya dirinya adalah Putri Pambayun anak putri dari Panembahan Senapati dan Tumenggung Mandaraka tak lain adalah penasihat Mataram yaitu Ki Juru Martani. Bukan main kesalnya Wanabaya yang ternyata selama ini telah dibohongi oleh isteri tercintanya sendiri, sambil bersujud menangis Pambayun meminta maaf dan menyatakan rasa penyesalan dan bersalahnya. Apa daya wanabaya yang telah naik pitam tak kuasa menahan amarahnya dan terus menggerutu menungu kedatangan Baru Klinting yang mungkin bisa menenangkannya.

Hari kunjungan yang dinanti telah tiba, inilah saatnya wanabaya dan Pambayun beserta seluruh bala tentara Mangir menuju Mataram. Di lain pihak Panembahan Senapati, Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Juru Martani sudah tak sabar menunggu menantunya Wanabaya menghadap. Ketika tiba di Mataram bala tentara Mangir langsung menyerbu Mataram dengan segenap kekuatan yang ada. Wanabaya dan Baru Klinting pun ikut menyerbu Mataram dan langsung menuju ruang pertemuan untuk menghujamkan kerisnya kepada Panembahan Senapati. Ketika hendak berlari menghujam kan kerisnya, Wanabaya ditikam dari belakang oleh Pangeran Purbaya yang merupakan kakak dari pambayun. Begitu juga dengan Baru Klinting, setelah menangkis serangan demi serangan akhirnya ia pun tewas oleh tikaman tombak Panembahan Senapati. Tak hanya mereka berdua, Ki Ageng Pamanahan ayah dari Panembahan Senapati pun tewas saat itu juga. Berakhirlah sudah perjalanan Perdikan Mangir di tangan Mataram, hanya tersisa Pambayun yang tengah bersedih sanbil memeluk jasad suami tercinta sang Tua Perdikan Mangir Wanabaya sambil terus berkata sendiri tanpa arti.

Pertanyaan dan Tugas Kelompok

1. Tentukan tema

2. Tentukan latar

3. Tentukan Alur

4. Tentukan Tokoh

5. Tentukan Karakter

6. Tentukan amanat

7. Tentukan gaya bahasa

8. Tentukan sudut pandang

9. Buat kesimpulan cerita

10. Manfaat menganalisis novel sejarah

Demikian rangkaian materi dan latihan soal secara kelompok agar bisa dibahas sebagai tugas kelompok.