Iktisar Novel Pram,..

Novel “Perburuan” karya Pramoedya Ananta Toer
Novel ini berkisah tentang seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Rentang waktu cerita berkisar pada penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia (saat Jepang menyerah pada sekutu). Sang pejuang ini rela meninggalkan orang tuanya, tunangannya, harta, dan kesenangan-kesenangannya demi satu tekad: merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Adalah Hardo, demikian nama tokoh utama dalam novel ini, menjadi buronan Nippon yang berbahaya. Hardo sebelumnya adalah anggota PETA dengan pangkat shodanco, organisasi bentukan Jepang. Namun, ia dan rekan-rekan lain begitu mencintai negeri ini sehingga keluar dari perkumpulan itu. Mereka dituduh pengkhianat Nippon dan menjadi buronan berbahaya. Berbagai cara mereka lakukan agar lepas dari intaian pasukan Nippon. Salah satunya dengan menjadi kere. Yah…kere yang malang dan tak diperhitungkan dalam masyarakat.

Sebelum menjadi buronan Hardo telah bertunangan dengan Ningsih, putri Lurah Kaliwangan. Untuk itulah, dia menyamar sebagai kere ketika datang mengemis bersama kere-kere lain ke rumah lurah itu. Di rumah lurah itu sedang dilangsungkan pesta sunatan. Adik Ningsih yang baru berumur 12 tahun itu disunat. ‘Koor’ para kere berkumandang meminta sedekah kepada yang empunya rumah. Atas permintaan anaknya yang baru disunat, ibu rumah rela membagi-bagikan penganan kepada sederetan tangan yang mengiba memohon. Namun ada seorang kere yang tidak mau menerima sedekah. Ia tidak juga pergi meski semua kere lain telah pergi. Di tengah keheranan, anak ibu yang baru disunat itu tiba-tiba berseru bahwa kere itu seperti Den Hardo yang dikenalnya. Memang, dia adalah Hardo. Ibu rumah sangat terkejut karena seorang Hardo bukanlah orang asing baginya. Hardo itu tunangan putrinya Ningsih dan kini ia buronan Nippon. Belum sirna keheranannya, si kere buru-buru meninggalkan tempat itu.

Hardo berjalan lesu karena tidak berhasil berjumpa dengan Ningsih. Tak dinyana, lurah Kaliwangan calon mertuanya itu tiba-tiba ada di tempat itu. Malam semakin gelap. Hardo duduk tak jauh dari tempat lurah itu. ia mendengarkan keluhan-keluhannya. Ternyata, kedatangan pak lurah tak lain tak bukan ingin berjumpa dengan Hardo. Atas permintaan anaknya (sebagai hadiah sunatan) ia mau membujuk kere itu pulang. Anaknya rindu pada kere itu, meski kini ia tidak suka lagi dengan kere malang itu.

Dalam kegelapan, Hardo mendekati orang tua itu. Mereka sebenarnya tidak bisa saling melihat karena pekatnya malam, mereka hanya dapat bersentuhan. Lurah mengenal Hardo lewat sentuhan. Ia kenal benar ciri khas Hardo yakni tangan kanannya yang terkena bayonet Nippon. Lurah itu berusaha keras membujuk Hardo supaya mau pulang. Ia mengatakan bahwa orang-orang di kampung begitu merindukan kehadirannnya terutama Ningsih, adik Ningsih, dan isterinya. Ia lalu menawarkan rokok dan uang. Memberitahu Hardo bahwa ibunya telah meninggal. Tetapi tidak berhasil karena jauh sebelumnya Hardo telah mengetahui tipu dan muslihat lurah itu, lurah itu seorang pengkhianat dan mata-mata Nippon. “Bapak pergi saja pulang. Saya tidak mau ikut. Saya mau ke bintang,” itu saja jawaban yang diperoleh oleh lurah itu. Jawaban Hardo ini sangat membingungkan bagi lurah tersebut. Karena tidak tahan lagi, akhirnya lurah itu memilih pulang sendiri. Kebetulan, gerobak yang menuju ke kampungnya sudah datang.

Bersamaan dengan kepergian lurah itu, Hardo buru-buru membelok ke kanan meninggalkan tempat itu menuju timur laut. Ia mencium bahaya yang akan datang jika ia tetap berada di situ. Dalam gelapnya malam ia melompat dengan sigapnya. Ia lari menuju kebun jagung milik ayahnya. Namun, barusan ia tiba di gubuk yang ada di tengah kebun itu, ayahnya datang. Ayahnya bekas wedana Karangjati baru pulang bermain judi. Mereka bertemu dalam kegelapan. Kere itu tahu benar bahwa orang tua itu adalah ayahnya sendiri namun si ayah itu hanya tahu bahwa temannya sekarang adalah seorang pengembara. Demikian diperkenalkan oleh Hardo. Ia tidak mau menyusahkan ayahnya. Ia tidak mau juga ayahnya menghalanginya dalam merebut kemerdekaan. Cukuplah pertemuan malam itu melepas rindunya kepada ayah. Tetapi seorang bapak pasti mengenal anaknya sampai pada hal terkeceil pun. Ia sudah hampir berhasil ‘menemukan’ anaknya lewat suara yang didengarnya. Suaramu seperti suara anakku katanya. Dia tidak kehabisan akal dalam membenarkan dugaannya, bahwa yang ada didepannya sekarang adalah anaknya sendiri. Ia mengatakan bahkan sudah pernah ke gua Sampur di Plantungan. Gua itu tergolong angker sehingga jarang dimasuki orang. Dan di gua angker itu kata orang anaknya bersembunyi. Karena cintanya dia memasuki juga gua angker itu, meski tidak menemukan apa-apa di sana. Tetapi apa boleh buat Hardo rupanya sudah terlatih dengan kamuflase yang mampu meyakinkan setiap orang. Ia memanfaatkan kegelapan malam dan kepikunan orang tua itu. Akhirnya, Hardo ‘menang.’ Walau demikian banyak juga informasi penting yang diperolehnya dari ayahnya: ibunya sudah meninggal dunia, ayahnya sudah dipecat dari kedudukannya sebagai wedana Karangjati dan sekarang kebiasaan buruknya jadi penjudi.

Lama mereka berbicara tentang banyak hal. Akhirnya Hardo letih juga. Ia minta diri untuk tidur. Sementara tidur, ayahnya pergi keluar membakar jagung. Tiba-tiba, degup kaki sekelompok orang makin mendekat. Ternyata mereka adalah pasukan Nippon yang sedang mencari dan ingin menangkap Hardo. Meski sudah menghalangi dengan sekuat cara, pasukan Nippon itu berhasil juga merangsek masuk ke dalam gubuk tua tempat Hardo tidur. Namun mereka lagi-lagi tidak menemukan siapa-siapa. Insting tajam Hardo telah lebih dahulu mengingatkannya akan bahaya penggrebekan itu. Insting yang selalu membuat ia semakin berbahaya bagi musuh. Ia berhasil kabur. Kabur….dan kabur terus. Ia beranjak ke kolong jembatan kaki Lusi di timur stasiun Blora. Di kolong gelap itu ia tidur dengan kere lainnya. Di sana ia bertemu dengan rekannya, Dipo dan Kartiman. Sebagaimana Hardo, Dipo juga adalah mantan shodanco dan Kartiman itu anak buah mereka. Mereka sebagian dari sisa-sisa pencinta negeri ini yang masih tetap setia. Hardo, Dipo, dan Karmin adalah mantan shodanco PETA. Ketiganya pernah berjanji akan menuju ke bintang (kata lain dari memperjuangkan kebebasan). Namun seorang dari mereka, Karmin, berkhianat. Itulah yang membuat Dipo kesal dan berjanji akan membunuhnya. Tetapi Hardo tidak segampang itu menuduh sembarangan. Ia berpandangan lain. Karmin berhianat karena tunangannya direbut orang lain. Jadi penghianatannya melulu pelampiasan kekecewaan. Ia yakin suatu hari Karmin akan bertobat. Dan lagi bagaimanapun mereka toh membutuhkan juga tenaga, pengaruh, kecakapan, dan pasukan Karmin. Hardo memang lebih tenang dari Dipo. Kartiman yang sejak tadi tidur tidak lama kemudian bangun. Ternyata ia membawa “kabar raksasa.” Kabar yang mereka nanti-nantikan, kabar yang mendukung perjuangan mereka saat ini. “Jepang sudah menyerah pada sekutu,” itulah intinya. Berita itu diperolehnya dari kakaknya yang bekeja di kantor pos. Melalui tilgram dari Jakarta diberitahuakan bahwa Jepang telah menyerah Orang Indonesia mulai bergerak dan melakuan perebutan kekuasaan. Mendengar berita ini, mereka bertiga mengatur siasat. Mereka sadar di daerah mereka Nippon masih kuat. Lantas mereka bersembunyi di antara ilalang luas yang berjejer bergoyang ke sana kemari.

Dugaan mereka memang benar. Nippon dan rombongannya segera menyisir tempat itu. Ikut bersama mereka Shodanco Karmin, Lurah Kaliwangan, Wedana Karangjati. Sidokan Jepang dan yang lainnnya begitu kecewa karena “kere-kere” yang mereka cari tidak ada di tempat. Karmin menuduh lurah Kaliwangan sebagai biang semuanya. Opsir Jepang memaksa lurah itu mengaku siapa teman terdekat Hardo. “Ayahnya,”jawab lurah itu. Tetapi jawaban ini tidak terlalu memuaskan karena ayah Hardo sudah ditangkap namun Hardo belum ditemukan. Dengan berat dan takut ia terpaksa mengakui putrinya sendiri, Ningsih. Ia menunjuk rumah Ningsih di sebelah barat laut agak ke atas. Jepang itu lalu menugaskan shodanco Karmin untuk memeriksa Ningsih di tempatnya.

Ningsih dan Karmin sudah lama berkenalan. Dulu Karmin juga menyukai Ningsih, tetapi ditolak karena Hardo sudah sudah lebih dahulu dan Ningsih sangat menanti tunangannya itu. Di hadapan Ningsih, Karmin mengaku menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Ia takut karena telah menjadi pengkhianat bangsa. Kini dia ingin bertobat. Dia mau menebus kesahalannya dengan menyelamatkan Ningsih dari penangkapan Nippon. Ia memberitahu bahwa ayah Ningsih adalah penyebab semua ini. Ayahnya memberitahu keberadaan Hardo ketika bercakap-cakap di jalan, sehingga tentara Jepang melakukan pengeroyokan ke sana. Tetapi Hardo tidak juga ditemukan. Ia juga yang memberitahu Jepang bahwa Ningsih putrinya adalah tunangan Hardo. Untuk itu, Karmin datang sekarang. Tetapi Karmin benar-benar mau kembai ke ‘jalan benar.’ Terlebih dahulu ia mau menyelamatkan Ningsih lalu nanti kembali pada Hardo dan teman-teman lain. Dan usahanya berhasil. Ketika rombongan lurah dan Jepang datang, ia berhasil meyakinkan Jepang itu bahwa Ningsih tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Hardo sekarang.

Belum tuntas drama penyisiran Jepang ini, tiba-tiba Ningsih dan Karmin dikejutkan oleh peristiwa yang tidak mereka duga. Peristiwa yang membuat mereka sedih tetapi menggembirakan bagi lurah dan opsir-opsir Jepang. Peristiwa apa itu? ‘Hardo, Dipo dan Kartiman telah berhasil ditangkap oleh keibodan Jepang.’ Opsir Jepang dan para pendukungnya bukan main girangnya. Mereka sangata gembira karena mangsa telah ditemukan. Dalam keadaan terjepit itu Hardo menyempatkan melirik Ningsih dan juga Karmin yang berdiri di belakang Jepang itu. Sementara konfrontasi yang menegangkan itu, terdengar suara orang-orang dari truk yang berseru dengan pengeras suara bahwa Indonesia sudah merdeka. Jepang sudah kalah dan menyerah pada sekutu tanpa syarat. Soekarno dan Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan. Mereka memerintahkan agar Hinomaru yang masih berkibar agar diganti dengan bendera Indonesia. Jepang itu pucat pasi. Tembakan parabellum-nya terpaksa diarahkan pada massa di depannya secara membabi buta. Sebentar kemudian tembakan senjata otomatis itu berhenti. Hardo dan teman-temannya berhasil melumpuhkan anak-anak Jepang itu dan kini menguasai keadaan. Dipo yang berdarah panas membunuh Jepang yang tadi menginterogasi mereka dengan samurai milik Jepang itu sendiri. Kini gilirang Karmin. Dipo sangat membencinya. Bak gayung bersambut massa yang berkerumun di sekitar menyorakinya untuk membunuh Karmin. Mereka menuduh Karmin sebagai pengkhianat bangsa. Terhuyung-huyung Hardo berhasil membatalkan samurai Dipo yang mengarah pada tengkuk Karmin yang tunduk dengan ksatrianya. Wibawa Hardo memadamkan nyala api benci, baik pada Dipo maupun massa itu. Tetapi satu hal terlupakan, Ningsih. Ternyata peluru parabellum Jepang telah menembus dadanya. Hanya kata-kata ini yang tersisa dari mulutnya “Jangan ganggu aku. Biar aku mati tenang…..dengan kenangan indah……..”