Membaca Beberapa Contoh Novel Sejarah

Apa perbedaan antara teks sejarah dengan novel sejarah? Selayang pandang kedua teks tersebut mirip identik. Tapi ada  beberapa yang membedakan keduanya. Teks cerita sejarah merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi dengan didasari sebjah peniggalan yang ada. Sedangkan novel sejarah ada yang fiktif dan ada juga yang novel menceritakan seseorang tokoh biasanya menceritakan tentang suatu peristiwa yang didasari suatu fakta keseharian.

 

Membaca Beberapa Contoh Novel Sejarah

Membaca Beberapa Contoh Novel Sejarah

Membaca Beberapa Contoh Novel Sejarah

Membaca Beberapa Contoh Novel Sejarah

 

Ringkasan  Novel Sejarah  Roro Mendut

Kisah Tragis Percintaan Roro Mendut 2018 zeff

 

Kekuasaan telah membunuh Mendut dan Pronocitro di ujung keris sakti Panglima Perang Mataram, Tumenggung Wiroguno. Sekali lagi kita melihat, absurditas cinta mati sia-sia. Sebuah tema yang terus berulang, tercampakkan dan hanya hidup dalam legenda.

Menurut cerita Romo Mangun, Mendut adalah simbol kekuatan daerah pesisir (Pantai Utara) yang ditaklukan oleh kekuasaan Mataram, simbol kerajaan dan budaya pedalaman, yang agraris dan cenderung otoritarian. Para ahli sastra, sarjana dan satrawan sepakat bahwa Mendut adalah pejuang emansipasi perempuan. Dia berani menolak hasrat berahi seorang Panglima, walaupun dengan itu, dia harus menanggung resiko membayar pajak upeti seperti layaknya sebuah daerah ataupun orang-orang yang takluk oleh kekuasaan Mataram.

Mendut hanyalah seorang anak nelayan dari desa Teluk Cikal yang kebetulan hidup dalam kekuasaan Adipati Pragolo II, sang keris penguasa Kadipaten Pathi. Dan sebelum jatuh ke tangan Tumenggung Wiroguno, Mendut telah pula diculik oleh prajurit Adipati Pragolo II, saat sedang asyik-asyiknya membantu pamannya di pesisir pantai. Mendut di bawa begitu saja karena kecantikkannya. Keceriaan remajanya dirampas dan dipingit dalam Puri Kadipaten Pathi. Tapi sebelum keremajaannya dinodai oleh Adipati Pragolo II, Kadipaten Pathi, keraton serta purinya telah habis dirangsek oleh Tumenggung Wiroguno, utusan Kerajaan Mataram. Sebab diduga Kadipaten Pathi akan memberontak terhadap kekuasaan besar Kerajaan Mataram, dengan mencoba memerdekakan diri dan enggan membayar upeti menghadap Istana Mataram di Karta.

Jadilah Mendut seperti barang pampasan perang Kerajaan Mataram. Mulanya di persembahkan pada Ingkang Sinuhun Susuhunan Hanyokro-Kusumo, Senopati Ingalogo Mataram Abdurrahman Sayyidin Panotogomo (Sultan Agung), tapi karena Tumenggung Wiroguno berkenan pada Mendut, Sultan Agung Mataram menyerahkannya pada Tumenggung Wiroguno.

Pemberontakan Mendut pada awalnya ditanggapi dengan lunak. Tapi lama kelamaan, Tumenggung merasa kesal dan jengkel. Pajak yang tadinya ditetapkan setiap bulan ditekan menjadi setiap minggu. Mendut tak kehilangan akal, kemudian menjual semua perhiasannya untuk dijadikan modal berjualan puntung rokok.

Di alun-alun Mataram Istana Karta, tepatnya di tengah pasar rakyat, Mendut membuka warung puntung rokoknya. Sambil diiringi tarian erotis penuh gerakan kebebasan ala budaya pantai utara, Mendut menghisap rokok dan bekasnya dijual pada setiap pengunjung yang mau membeli. Tentu saja harganya lebih mahal dari rokok biasa, karena rokok tersebut sudah tersentuh dan dihisap oleh Mendut, yang menurut anggapan rakyat banyak, Mendut adalah seorang Putri Selir Mataram dari Tumenggung Wiroguno.

Di pasar itulah, Mendut mengenal Pronocitro pada pandangan pertama. Cinta mulai bersemi di dada masing-masing dua insan yang sedang jatuh cinta. Pronocitro pun kemudian tahu tentang cerita Mendut sebagai Puteri Boyongan dari Kadepaten Pathi. Sedangkan Pronocitro sendiri adalah seorang pengembala yang lari dari keinginan ibunya Nyai Singa Barong, seorang saudagar armada dagang di Pekalongan, yang menginginkan putranya meneruskan bisnisnya. Terdamparlah Pronocitro di Mataram dan menemukan Mendut sebagai jodohnya.

Dengan ketampanan dan keperkasaan tubuhnya, Pronocitro akhirnya dapat masuk ke dalam Puri Wirogunan sebagai pemelihara kuda. AwalnyaWiroguno tidak mencurigai keberadaannya, sebagai kekasih gelap Den Roro Mendut, tapi akhirnya hubungan mereka berdua tercium juga oleh Wiroguno.

Suatu malam Pronocitro dan Mendut merencanakan untuk kabur, karena sebelumnya mereka sudah tahu bahwa, Wiroguno akan menangkap basah mereka saat berduaan. Dengan bantuan dayang-dayang Puri Wirogunan, yang setuju dengan hubungan Mendut-Pronocitro, akhirnya mereka berhasil mencuri start, sebelum Wiroguno dan pasukannya datang menyergap.

Ilustrasi Kisah Roro Mendut dan Ptonocitro Sumber Tribun Jogja

Wirogunokalang-kabut dan bersama pasukannya mencoba mengejar dan menangkap mereka hidup-hidup. Setelah pencarian siang dan malam, akhirnya Mendut dan Pronocitro dapat terkejar dan tersudut di Muara sungai Oya-Opak. Mereka sudah terkepung dan sulit berkutik lagi. Namun Pronocitro dengan gagah berani tampil ke depan menghadapi seorang Panglima Mataram. Dia tahu kalau kekuatannya tidak sebanding dengan Tumenggung Wiroguno, tapi cinta telah menuntunnya untuk berani disaat-saat yang begitu mendesak. Perkelahian tak dapat dihindaridan kemenangan sudah dipastikan akan berpihak pada Wiroguno. Disodorkanlah keris sakti Wiroguno ke hadapan tubuh Pronocitro, namun secepat kilat Mendut telah berdiri tepat di hadapan Pronocitro. Keris Wiroguno tertancap menusuk jantung Mendut dan tembus ke dada Pronocitro. Mereka rubuh bersimbah darah. Tubuh mereka hanyut dihemapas ke muara sungai menuju samudera, tempat asal mereka dulu.

Cinta telah menyatukan mereka dalam satu nafas, kehidupan dan kematian. Sedangkan kekuasaan memang selalu menyiratkan kekuataan senjata dan darah, lalu melupakan nilai-nilai kemanusiaan tentang cinta dan kasih sayang.

Satu contoh bentuk ringkasan dari novel Roro Mendut Karya Ajib Rosidi dan disadur oleh YB Mangun Wijaya .Semoga menjadi inspirasi beberapa contoh novel sejarah lainnya seperti contoh dia atas. Kalian boleh membaca lebih banyak lagi bentuk bentuk novel atau sekedar ringkasan tak jadi masalah yang pasti kakian bisa membedakan antara teks sejarah dengan novel sejarah.  Tentu unsur yang membengun atara teks sejarah dengan novel sejarah berbeda.

Sastra merupakan wujud refleksi realitas sosial meskipun dalam penyajiannya dibumbui oleh unsur imajinatif dari pengarang. Sejalan dengan pendapat Damono (2010:1) yang menyebutkan bahwa sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, hal ini tentu karena bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Dengan demikian sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.

Wellek dan Warren mengatakan bahwa karya sastra sebuah lembaga masyarakat yang bermedium bahasa, sedangkan bahasa adalah ciptaan masyarakat (1989:48). Menanggapi hal tersebut, bahasa merupakan hal terpenting dalam karya sastra. Bahasa sebagai sarana menuangkan suatu karya imajinatif hasil karya cipta dunia pengarang yang bersifat imajinatif berbentuk cerpen, novel, novela, puisi maupun karya sastra yang lainnya. Pengertian lain mengenai karya sastra dirumuskan secara metodik oleh Jehlen (dalam Anwar, 2010: 143) yang menempatkan karya sastra sebagai objek materi yang berbeda dengan objek-objek materi lain dalam studi fisik dan sosial. Karya sastra adalah dirinya sendiri yang telah ditafsirkan oleh pengarangnya.

Novel merupakan cerita rekaan yang panjang, yang mengetengahkan tokoh-tokoh dan menampakkan serangkaian peristiwa dan latar (setting) secara terstruktur (Noor, 2009:27). Novel sendiri merupakan gabungan dari realitas dan kenyataan. Pembaca sebagai penikmat karya sastra tersebut juga harus memahami novel dan menafsirkan peristiwa yang ada dalam kenyataan sehari-hari.
Struktur karya sastra sendiri dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran yang membentuk kebulatan yang indah. Selanjutnya, menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010:36) sebuah karya sastra, fiksi atau puisi mempunyai unsur pembangun yang koherensif sehingga merupakan sebuah totalitas. Dengan demikian, unsur pembangun tersebut merupakan hal penting dalam penyusunan sebuah karya fiksi atau puisi untuk membentuk suatu totalitas yang koheren, guna membuat sebuah gambaran yang mempunyai nilai estetis.

Struktur karya sastra juga mengacu pada hubungan antarunsur instrinsik yang bersifat timbal balik, saling menentukan dan mempengaruhi, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh jika bersama-sama. Lain halnya jika unsur tersebut hanya berdiri sendiri maka bagian-bagian tersebut tidak penting, namun jika berhubungan dengan unsur-unsur yang lain, maka akan lebih mempunyai makna dan membentuk suatu wacana (Nurgiyantoro, 2010:36).

Unsur-unsur yang ada pada novel adalah sebagai berikut,

Alur/Plot

Sebuah cerita tidak dapat dipisahkan dari unsur yang disebut plot atau alur. Definisi menurut Stanton (2012:26) alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Peristiwa tersebut terhubung secara kasual, dan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang dapat menyebabkan atau menjadi dampak dari peristiwa yang lain. Hal tersebut tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan cerita.

Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2010:113) mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak sederhana, karena peristiwa itu telah disusun berdasarkan kaitan sebab akibat oleh sang pengarang. Menambahkan pengertian di atas, Forster mengemukakan plot sebagai peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada hubungan kasualitas. Berdasarkan tiga pengertian di atas, alur merupakan sebuah bentuk penyampaian kejadian tiap peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat dan tidak dapat berdiri sendiri, namun saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

Tema

Tema menurut Stanton dan Kenny (melalui Nurgiyantoro, 2010:67) merupakan makna yang dikandung sebuah cerita, namun makna yang dimaksud adalah makna khusus yang mewakili keseluruhan cerita. Makna tersebut merupakan poin utama yang menjadi garis besar cerita dan menjadi acuan isi cerita.
Tema memberi kekuatan yang menegaskan kesatuan kejadian-kejadian yang sedang diceritakan sekaligus mengisahkan kehidupan dalam konteksnya yang paling umum. Tema merupakan bentukan dari kesatuan cerita dan memberi makna pada setia peristiwa. Dengan demikian, dengan adanya tema maka dapat diketahui apa makna cerita, karena pengarang memanfaaatkan tema sejauh tema memberikan makna pada pengalaman cerita (Stanton, 2012:8).

Latar/Setting

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010:216), latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Pendapat lainnya menurut Stanton, latar merupakan lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa- peristiwa yang sedang berlangsung di dalam sebuah karya sastra (Stanton, 2012:35).

Dalam novel terdapat hubungan antara latar dengan unsur cerita yang lain, baik secara langsung maupun tak langsung, khususnya dengan alur dan tokoh. Perbedaan latar, baik yang menyangkut hubungan tempat, waktu, maupun sosial menuntut adanya perbedaan pengaluran dan penokohan (Nurgiyantoro, 2010:223- 225).

Amanat

Amanat atau moral cerita merupakan pandangan hidup pengarang yang disampaikan, tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal tersebut ingin disampaikan kepada pembaca melalui cerita, pengertian tersebut diungkapkan oleh Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2010:321). Melalui amanat tersebut maka dengan melihat sikap para tokoh, maksud dari kejadian dan peristiwa, serta melalui sikap, cerita dan tingkah lakunya dapat mengambil hikmah atau pesan dari cerita yang diamanatkan.

Tokoh dan Penokohan

Istilah “tokoh” menunjuk pada pelaku cerita. Abrams menjelaskan bahwa tokoh (character) merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan mempunyai kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam dialog atau melalui tindakan (Nurgiyantoro, 2010:165).

Dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh, maka oleh Nurgiyantoro (2010:176) tokoh dibedakan menjadi tokoh utama cerita dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus- menerus, sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Tokoh tambahan adalah tokoh-tokoh yang dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dalam porsi yang relatif lebih pendek.

Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, maka dikenal tokoh protagonis, yaitu tokoh yang dikagumi –dikenal sebagai hero– tokoh yang sesuai dengan harapan-harapan pembaca, segala hal yang dirasakan tokoh tersebut seperti yang dirasakan pembaca. Berlawanan dengan tokoh protagonis, tokoh antagonis adalah tokoh yang menciptakan konflik dan ketegangan, khususnya terhadap tokoh protagonis (Nurgiyantoro, 2010:178-179).

Foster (melalui Nurgiyantoro, 2010:181) membagi tokoh berdasarkan perwatakannya, yaitu tokoh sederhana dan tokoh bulat. Tokoh sederhana adalah tokoh yang mempunyai satu kualitas pribadi sehingga hanya mempunyai sifat atau watak tertentu saja, sedangkan tokoh bulat merupakan tokoh yang lebih kompleks, sehingga mempunyai berbagai kemungkinan dalam sisi kehidupan, kepribadian, bahkan jati dirinya.

Kriteria lain dalam menentukan perwatakan tokoh berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh cerita, hal ini dibedakan menjadi tokoh statis dan tokoh berkembang. Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perkembangan atau perubahan akibat dari peristiwa yang terjadi. Berlawanan dengan tokoh statis, tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan peristiwa atau plot yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 2010:188).

Pembedaan tokoh yang lain yaitu berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap manusia dari kehidupan nyata. Menurut Altenberd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 2010:190-191) tokoh itu terbagi atas :

Tokoh tipikal yaitu tokoh yang hanya sedikit ditampilkan individualitasnya, sehingga lebih banyak ditampilkan kualitas pekerjaan dan kebangsaannya, dan

Tokoh netral yaitu tokoh yang bereksistensi demi cerita itu sendiri, hanya dihadirkan semata-mata demi cerita.

Nurgiyantoro (2010:166) mengungkapkan bahwa selain unsur tokoh, juga terdapat penokohan dalam sebuah karya sastra. Penokohan merupakan salah satu unsur pembangun karya fiksi yang mencakup masalah identitas tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan pelukisannya dalam sebuah cerita, sehingga sanggup memberi gambaran yang jelas pada pembaca.

Unsur penokohan sebagai unsur yang penting dapat dikaji dan dianalisis keterjalinannya dengan unsur pembangun lainnya. Jika penokohan terjalin secara harmonis dan saling melengkapi dengan unsur yang lain, maka suatu karya fiksi telah dianggap sebagai karya yang berhasil. Seperti halnya berkaitan dengan unsur plot, tema, setting, amanat, sudut pandang, gaya, dan lain-lain.
(Nurgiyantoro, 2010:172).

Seperti yang telah diungkapkan Nurgiyantoro (2010:172-173) unsur cerita yang lain tersebut meliputi :

Penokohan dan pemplotan;
Penokohan dan tema;
Penokohan dan setting;
Penokohan dan amanat.
Unsur-unsur tersebut saling berkaitan, sehingga membentuk analisis struktural teks yang menjadi satu kesatuan. Hal ini akan lebih memudahkan dalam mengapresiasi karena keterkaitan antar elemen dalam cerita tidak dapat dipisahkan yaitu relevansi antara tokoh dan penokohan dengan unsur tema, plot, setting, dan amanat.

Zefara Azzahra Bersama XII TKJ 6 September 2018

Tugas Individu  6  (Novel Sejarah)

1. Mencari satu contoh cerita novel sejarah

2. Menguraikan unsur instrinksik dari cerita novel Roro Mendut

3. Menentukan tokoh tokoh dari cerita novel sejarah Roro Mendut

4. Apa amanat pada ringkasan cerita novel sejarah Roro Mendut?

5. Tuliskan satu paragraf cerita novel sejarah Roro Mendut dan tentukan makna tersurat dan tersirat

6. Dimana latar kejadian cerita Roro Mendut?

7. Tentukan amanat yang ingin disampaikan pada cerita Roro Mendut?

8. Pelajaran apa saja yang diperoleh setelah membaca dan memahami isi cerita tersebut?

9. Bagaimana sudut pandang dalam cerita Roro Mendut?

10. Tulislah cerita ringkas dengan menggunakan bahasamu agar cerita lebih jelas dipahami!

Selamat Mengerjakan Semoga Makin Memahami Pesan Pesan Pada Cerita dan Akhirnya Bisa Mengaplikasikan Dalam Kehidupan Sehari Hari. Terimakasih  Zefara Azzahra